Bagaimana Sejarah Rumah Kuno Joglo

Bagaimana Sejarah Rumah Kuno Joglo – Ada sebuah pendapat yang  menyatakan bahwa rumah  joglo pada mulanya dibangun dengan menggunakan bahan  material dari batu.  Dan  arsitektur  dari rumah  joglo  banyak dipengaruhi  oleh  bangunan kuil pada abad ke-8 M.  Akan tetapi,  masih banyak  pertanyaan  yang  belum  bisa terjawab  sampai detik  ini  mengenai  hal tersebut.   


Selain itu, ada  juga  dugaan  bahwa rumah  joglo  berdasarkan  naskah  “Kuna” yang  berasal  dari  kerajaan  Kediri menyebutkan bahwa  rumah-rumah  orang  Jawa dibangun menggunakan bahan material dari kayu. Bangunan dari bahan kayu dikarenakan kayu merupakan bahan  yang  ringan, mudah dibentuk, dan banyak  tersedia.  Jelas  itu  lebih  banyak menguntungkan  dibandingkan  dengan bangunan yang materialnya berasal dari batu karena lebih berat dan lebih lama atau sulit dibentuk.

Bahkan,  ada  pula  mitos  yang menyatakan  bahwa  rumah  joglo  dahulunya  digunakan  sebagai  perantara dalam  penyebaran  Islam  di  daerah  Jawa khususnya di Jawa Tengah. 

Pada rumah adat joglo terdapat bermacam-macam ukiran yang memberikan keindahan  serta diharapkan dapat memberikan kenyamanan dan kesejukan bagi orang yang tinggal di dalamnya. Bagi orang Jawa di Yogyakarta, hiasan rumah tersebut banyak diilhami oleh flora, fauna, dan alam. Pada alas tiang yang disebut umpak, biasanya diberi hiasan terutama umpak pada soko guru.  Hiasan  tersebut berupa ukiran bermotif bunga mekar, yang disebut Padma.  Padma  adalah bunga teratai merah sebagai lambang kesucian, kokoh dan kuat yang tidak mudah tergoyahkan oleh segala macam bencana yang menimpanya.

Ukiran yang terdapat pada rumah joglo ada bermacam-macam, sangat unik dan indah. Berikut ini adalah beberapa macam ukiran Jawa lainnya  yang biasa terdapat pada rumah joglo :
1.  Dan Patran.   Ukiran hiasan  yang menyerupai susunan daun yang berjajar rapi dan bersusun. Biasanya dan patran ini dibuatkan di bagian-bagian yang sempit namun memanjang sebagai hiasan yang berbaris rapi.
2.  Banyu Netes. Berbentuk seperti tetesan-tetesan air yang konon sumber inspirasi tersebut juga berasal dari teritisan atau tetesan air hujan dari pinggiran atap.
3.  Gunungan. Ornamen yang menyerupai gunung dan hutan yang artinya alam semesta atau jagad raya. Ornamen ini memiliki makna kedamaian, kemakmuran serta ketenteraman.
4.  Wajikan. Bentuk-bentuk dasarnya seperti wajik atau belah ketupat. Sementara di bagian tengahnya ada ukiran bunga-bungaan.
5.  Dan Lung-lungan. Hiasan yang paling indah nan manis ini berarti kesuburan dan itu tergambarkan pada bentuk ukiran yang menyerupai tanaman bebungaan rambat yang menjalar-jalar.

Rumah kuno joglo memang merupakan sebuah rumah yang mempunyai kandungan nilai sejarah yang cukup dalam. Tak heran bila para pejabat atau pengusaha kaya sekarang ini berburu rumah joglo yang mencerminkan rumah bangsawan zaman dahulu. Walaupun kini keberadaan rumah kuno tradisional dari Jawa ini makin langka, namun masih ada sisa-sisa dari peninggalan orang-orang keraton zaman dahulu seperti Keraton Jogja dan Solo. Di situs ini pun Anda juga bisa mendapatkan sebuah rumah kuno joglo yang dijual di Kota Solo full kayu jati “Rumah Kanjengan Keraton” peninggalan Pakubuwono III dan GPH Mangkunegoro. Bila Anda tertarik ingin memilikinya, silakan untuk menghubungi Kontak Kami.